Berqurban merupakan hal yang selalu dilakukan oleh umat Islam di
hari raya ’Idul Adha. Qurban dilaksanakan dengan hati yang penuh
keikhlasan tanpa ada paksaan dan jauh dari sifat riya. Dalam hal
berqurban sudah selayaknya mulai hari ini kita menyusun kiat-kiat
terbaik dalam melaksanakan ibadah qurban.
Qurban adalah suatu
amalan yang disyariatkan Islam pada tahun kedua hijriyah berdasarkan
dalil al-Quran, hadits, dan ijma’. Al-Quran mensyari’atkannya melalui
surat Al-Kautsar (QS. 108:1-2).
Adapun hukum berqurban sebagaimana
jumhur (mayoritas ulama) selain Abu Hanifah adalah sunnah muakkadah
artinya sunnah yang sangat dianjurkan. Dalil sunnahnya adalah hadits
Nabi SAW. : “Tiga hal yang merupakan kewajiban atasku dan sunnah atas
kalian adalah shalat witr, nahr (qurban) dan shala dhuha.” (HR. Ahmad,
Hakim, dan Daruquthni)
Imam at-Turmudzi meriwayatkan sabda Nabi: “Saya diperintahkan untuk melakukan qurban dan ia merupakan sunnah bagi kalian.“
Dalil yang menegaskan anjuran sunnah ini sehingga menjadi muakkadah
adalah hadits Nabi SAW: “Barangsiapa yang memiliki kelonggaran dan tidak
mau berqurban maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR
Ahmad dan Ibnu Majah)
KETENTUAN-KETENTUAN DALAM QURBAN
istilah udlhiyyah adalah nama untuk hewan qurban yang disembelih pada
hari raya qurban (10 dzulhijah) dan hari-hari tasyriq, dengan tujuan
untuk tawarrub (mendekatkan diri kepada Allah). kata udlhiyyah juga
terkadang digunakan untuk makna tadlhliyyah (berqurban atau melakukan
qurban)
udlhiyyah dengan menggunakan makna tadlhiyyah (melakukan
ibadah qurban) hukumnya adalah sunah muakkad bagi setiap orang islam,
baligh, berakal, dan mampu. Yang dimaksud mampu disini adalah orang yang
mampu melakukan ibadah qurban. dengan cara menyembelih hewan,bersamaan
ia memiliki sesuatu kelebihan untuk memenuhi kebutuhan hidup untuk
dirinya dan orang yang wajib dinafkahinya, pada saat hari raya qurban
dan pada hari tasyriq, yaitu pada tanggal 11.12 dan 13 Dzulhijjah.
Namun berqurban hukumnya dapat wajib apabila dinadzari. Misalnya jika
seorang berjanji akan berqurban jika ia berhasil mendapatkan prestasi
tertentu.
Adapun hewan yang mencukupi dan sah digunakan berqurban adalah:
1.Domba (dlo'nu),apabila sudah berumur satu tahun sempurna dan memasuki tahun yang ke dua.
2. Kambing kacang/jenis kecil (ma'zu), apabila sudah berumur dua tahun sempurna dan memasuki tahun yang ke tiga
3.sapi, apabila sudah berumur dua tahun dan akan memasuki tahun yang ke tiga.
untuk satu ekor sapi dan unta itu mencukupi untuk qurbanya tujuh orang,
sedangkan untuk satu ekor kambing itu hanya cukup untuk berqurbanya
satu orang. Satu orang yang berqurban dengan satu ekor kambing itu
hukumnya lebih utama dibanding oang yang berkurban dengan seekor unta
atau sapi yang digunakan berqurban secara musyarakah (persekutuan)
Ada beberapa hal yang menyebabkan hewan tidak sah untuk berqurban, yaitu:
1. hewan yang buta salah satu matanya
2. hewan yang pincang salah satu kakinya, walaupunitu terjadi ketika
akan disembelih, yaitu ketika dirubuhkan dan ia bergerak sangat kuat.
3. hewan yang sakit,seperti sakit yang menyebabkan hewan tampak kurus dan dagingnya rusak
4. hewan yang sangat kurus hingga menyebabkan hilang akalnya
5.hewan yang terputus sebagian/seluruh telinganya
6.hewan yang terputus sebagian/seluruh ekornya
sedangkan hewan yang pecah/patah tanduknya itu sah digunakan berqurban, begitu pula hewan yang tidak memiliki tanduk.
hewan qurban itu diperboleh disembelih mulai kira2 lewatnya waktu yang
cukup untuk melakukan dua rakaat dan dua khutbah yang cepat terhitung
dari terbitnya matahari pada saat hari idul adha sampai
terbenamnyamatahari pada hari ahir hari tasyriq, yaitu tanggal 13
Dzulhijjah.
sedangkan waktu penyembelihan yang utama adala ketika
matahari sudah ada satu tombak dalam pandangan mata pada saat hari raya
idul adha.
Keutamaan berqurban
“Maka dirikanlah (kerjakan) shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah.” (QS Al-Kautsar: 1-2)
Berqurban merupakan amalan yang paling dicintai ALLAH SWT pada saat Idul Adha. Sabda Nabi SAW:
“Tidak ada suatu amal anak Adam pada hari raya qurban yang lebih dicintai ALLAH selain menyembelih qurban.” (HR. Tirmidzi)
Berdasarkan hadits itu Imam Ahmad bin Hambal, Abu Zanad, dan Ibnu
Taimiyah berpendapat, “Menyembelih hewan pada hari raya qurban, aqiqah
(setelah mendapat anak), dan hadyu (ketika haji), lebih utama daripada
shadaqah yang nilainya sama.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi)
diperbolehkan bagi orang yang berqurban untuk menyerahkan niatnya pada
orang islam yang telah terkategori tamyiz, baik ia statusnya sebagai
wakil atau bukan.
1. Bagi orang laki-laki hewan qurban sunnah disembelih sendiri, karena itba' (mengikuti para nabi).
2. bagi orang perempuan sunnah untuk diwakilkan,dan sunnah baginya untuk melihat penyembelihan yang dilakukan oleh wakilnya.
Proses penyembelihan hewan qurban didahului dengan:
1.Membaca basmalah
2.membaca shalawat kepada NAbi
3.menghadap kearah kiblat (bagi hewan yang disembelih dan orang yang menyembelih)
4. membaca takbir 3 kali bersama-sama
5. berdoa agar qurbanya diterima oleh Allah
Rukun penyembelihan itu ada 4, yaitu:
1.Dzabhu (pekerjaan menyembelih)
2.Dzabih (orang yang menyembelih)
3.hewan yang disembelih
4.alat menyembelih
Mau Berqurban Tapi Pakai Utang, Bolehkah?
Pertama. Berqurban dengan biaya dari utang.
Tidak ada larangan dalam nash, tentang melakukan amal shalih yang
sifatnya maaliyah (harta) seperti qurban, aqiqah, dan haji[1], yang
pembiayaannya berasal dari utang. Maka, dia kembali pada bab utang
piutang yang memang dibolehkan syariat. Dengan catatan:
1.Ketika dia berutang mesti dalam keadaan yakin mampu membayarnya
2.Utang tersebut tidak menambah beban berat utang lama yang masih
banyak dan belum dilunaskan, sebab, semua ibadah qurban ini memang
dianjurkan bagi mereka yang sedang dalam keadaan lapang rezeki dan
istitha’ah (mampu).
Para ulama salaf pun melakukannya, dan mereka
tidak memandang masalah dengan berutang untuk berqurban (atau juga
aqiqah). Dalam Tafsir-nya, Imam Ibnu Katsir menceritakan dari Imam
Sufyan Ats Tsauri tentang Imam Abu Hatim (riwayat lain menyebut Imam Abu
Hazim) yang berutang untuk membeli Unta buat qurban.
وقال سفيان
الثوري: كان أبو حاتم يستدين ويسوق البُدْن، فقيل له: تستدين وتسوق البدن؟
فقال: إني سمعت الله يقول: { لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ }
Berkata Sufyan
Ats Tsauri: Dahulu Abu Hatim berutang untuk membeli Unta qurban, lalu
ada yang bertanya kepadanya: “Anda berutang untuk membeli unta? Beliau
menjawab: Saya mendengar Allah Ta’ala berfirman: Kamu memperoleh
kebaikan yang banyak padanya (unta-unta kurban tersebut).” (Q.s. Al
Hajj: 36). (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 5/426)
Imam Ibnu Qayyim Al
Jauziyah menceritakan dari Al Haarits tentang dialog antara Imam Ahmad
bin Hambal dan Shalih (anaknya), katanya:
وقال له صالح ابنه الرجل
يولد له وليس عنده ما يعق أحب إليك أن يستقرض ويعق عنه أم يؤخر ذلك حتى
يوسر قال أشد ما سمعنا في العقيقة حديث الحسن عن سمرة عن النبي كل غلام
رهينة بعقيقته وإني لأرجو إن استقرض أن يعجل الله الخلف لأنه أحيا سنة من
سنن رسول الله واتبع ما جاء عنه انتهى
Shalih –anak laki-laki Imam
Ahmad- berkata kepadanya bahwa dia kelahiran seorang anak tetapi tidak
memiliki sesuatu buat aqiqah, mana yang engkau sukai berutang untuk
aqiqah ataukah menundanya sampai lapang keadaan finansialnya. Imam Ahmad
menjawab: “Sejauh yang aku dengar, hadits yang paling kuat anjurannya
tentang aqiqah adalah hadits Al Hasan dari Samurah, dari Nabi bahwa,
“Semua bayi tergadaikan oleh aqiqahnya,” aku berharap jika berutang
untuk aqiqah semoga Allah segera menggantinya karena dia telah
menghidupkan sunah di antara sunah-sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam dan telah mengikuti apa-apa yang Beliau bawa. Selesai.
(Tuhfatul Maudud fi Ahkamil Maulud, Hal. 64. Cet. 1, 1971M-1391H.
Maktabah Darul Bayan)
Demikianlah kebolehan berutang untuk
berqurban, namun “boleh” bukan berarti lebih utama, sebab lebih utamanya
adalah justru membayar utang dahulu, bukan menambah dengan utang baru.
Membayar utang adalah wajib, dan tidak ada khilafiyah atas kewajibannya,
sedangkan berqurban adalah sunah muakadah bagi yang sedang lapang
rezeki menurut jumhur ulama, kecuali Imam Abu Hanifah yang mengatakan
wajib. Maka, wajar jika sebagian ulama justru menganjurkan untuk
melunaskan utang dulu barulah dia berqurban jika sudah lunas utangnya.
Bagaimana dengan utang yang jangka waktunya panjang, seperti cicilan
mobil atau rumah yang mencapai belasan tahun? Apakah orang seperti ini
harus menunggu belasan tahun dulu untuk berqurban?
Tidak juga
demikian, dia bisa dan boleh saja berutang untuk qurban selama memang
dia mampu untuk melunasinya dan tidak mengganggu cicilan lainnya.
Tetapi, bukan pilihan yang bijak jika dia tetap ngotot berutang tetapi
keluarganya sendiri sangat merana hidupnya, atau ada kebutuhan mendesak
seperti biaya sekolah yang besar, rumah sakit, dan semisalnya.
Wallahu A’lam.
syarat dalam menyembelih adalah memotong hulqum (jalan nafas) dan mari'
(jalan makanan). hal ini apabila hewanya maqdur (mampu disembelih dan
dikendalikan)
Kesunahanya :
a.memotong wadajain (dua otot yng berada disamping kanan &kiri)
b.menggunakan alat penyembelih yang tajam
c.membaca basmallah
d.membaca shalawat dan salam pada nabi Muhammad SAW
Syarat orang yang menyembelih :
1.Islam / orang yang halal dinikahi orang islam
2.bila hewanya ghairu maqdur, maka disyariatkan orang yag menyembelih
adalah orang yang bisa melihat. dimakhrukhan sembelihanya orang yang
buta, anak yang belum tamyiz dan orang yang mabuk
Syarat hewan yang disembelih :
a.hewanya termasuk hewan yang halal dimakan
b.masih memiliki hayatun mustaqirrah (kehidupan yang masih tetap)
Syarat alat penyembelih:
YAitu berupa sesuatu yang tajam yang bisa melukai, selain tulang belulang
CATATAN:
1.Daging qurban tidak boleh dibagikan kepada non muslim meski dijual
2.disunahkan pengkorban melihat proses kuscuran darah hewan kurban
3.disunahkan pengorban tidak memotong kuku,rambut dari Id sampai hewan dipotong.
PAHALA BERKURBAN
mungkin banyak yang bertanya apa pahala dari berkurban? apa manfaat berkurban.
saat ini kita telah masuk idul adha (hari raya kurban),sangat tepat dan pas membahas kurban.
mengenai besarnya pahala berqurban,sahabat Ali r.a mengatakan
:"barangsiapa berangkat dari rumah hendak membeli hewan qurban,maka
setiap langkahnya memperoleh 10 kebaikan dan dihilangkannya 10
keburukan,serta dinaikan 10 derajat..."(jawahir zadah)
Nabi SAW
bersabda kepada Aisyah :hai aisyah,majukanlah hewan kurbanmu dan
saksikanlah,sebab sejak tetes pertama darah hewan kurban itu jatuh ke
bumi,Alloh mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu.jawab Aisyah :"apakah
hal itu khusus bagi kami ataukah bagi umumnya orang mukmin,ya rosul?
beliau menjawab : ya berlaku bagi kami dan umumnya kaum mukmin".
wahab bin munabbih berkata: nabi daud as,berkata"Ya Alloh,sebesar apakah
pahala orang yang berkurban dari umat nabi muhammad saw?
jawabNya :"aku memberi pahala kepadanya,setiap bulu dari badan hewan
kurbannya 10 kebaikan,aku hapus 10 keburukan,serta kunaikan 10
derajat,baginya setiap rambut menjadi gedung di surga,seorang bidadari
yang ayu dan kendaraan bersayap berkecepatan tinggi,ia kendaraan ahli
surga..."(zahratul riyadl)
NabSAW : siapa shalat seperti yang
kulakukan,dan beribadah jahi seperti yang kulakukan,berarti ia termasuk
golonganku.dan siapa tidak shalat sebagaimana yang aku lakukan,dan
enggan berqurban,berarti ia bukan jama'ahku,jika ia termasuk orang kaya
diriwayat lain beliau juga bersabda :ingatlah bahwa kurban itu termasuk
amal-amal penyelamat,yang menyelamatkan pemiliknya dari kejelekan dunia
dan bahaya di akherat"(zubdatul wa'idhin)
mengingat begitu besarnya
pahala berkurban,hendaknya kita segera berkurban jika sudah punya
kelebihan rizki.selain sebagai kendaraan kita di hari akherat
nanti,berkurban juga sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap
orang-orang yang tak mampu,terutama bagi mereka yang tak mampu membeli
daging.
Manfaat berqurban
1. Menghidupkan sunnah Nabi ALLAH, Ibrahim a.s.,
2. Mendidik jiwa ke arah taqwa dan mendekatkan diri kepada ALLAH.
3. Mengikis sifat tamak dan mewujudkan sifat murah hatu dan berjihad di jalan ALLAH.
4. Menghapuskan dosa dan mengharap keridhaan ALLAH.
5. Menjalinkan hubungan kasih sayang sesama manusia.
Sumber : Pengajian
Minggu, 20 September 2015
Masjid Baiturrahman, Jl.Pala Iringmulyo Metro Timur
Ustad Firman Arafat
Sabtu, 26 September 2015
Keutamaan Ibadah Haji
Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini
CeramahPidato.Com akan berbagi artikel mengenai Ceramah Puasa 2015 atau
Ceramah Ramadhan 1436 H, judulnya adalah Keutumaan Ibadah Haji,
simaklah.
Semoga puji bagi Allah yang memfardhukan ibadah haji dan umroh kepada orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Shalawat dan salam atas sahabat-sahabatnya yang berlomba-lomba berbuat baik. Allah swt. Berfirman di dalam Q.s. al-Hajj 22:27:
Semoga puji bagi Allah yang memfardhukan ibadah haji dan umroh kepada orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Shalawat dan salam atas sahabat-sahabatnya yang berlomba-lomba berbuat baik. Allah swt. Berfirman di dalam Q.s. al-Hajj 22:27:
وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
Yang artinya:
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,
Ada beberapa hal yang diperintahkan Allah kepada umat Islam berkaitan dengan ibadah haji, antara lain:
Perintah menyeru manusia untuk melaksanakan ibadah haji:
Seruan mengerjakan ibadah haji tersebut mengandung hikmah bahwa Allah akan menganugerahkan kepad manusia beberapa keutamaan, antara lain:
Perintah menyeru manusia untuk melaksanakan ibadah haji:
Seruan mengerjakan ibadah haji tersebut mengandung hikmah bahwa Allah akan menganugerahkan kepad manusia beberapa keutamaan, antara lain:
- Orang yang melaksanakan ibadah haji mendapat kehormatan menjadi tamu Allah Yang Maha Pengasih.
- Mendapat pahala jihad yang paling utama. Rasulullah saw. Bersabda: Jihad yang afdhal adalah haji mabrur.’’(Hadis riwayat Bukhari dari Aisyah ra).
- Mendapat pahala infaq fisabilillah, Bersabda Rasulullah SAW. :infaq dalam ibadah haji seperti infaq fisabilillah, satuDirham dibalas 700 kali lipat.’’(Hadis Riwayat Ahmad, dan Thabrani).
- Mendapat pengampunan dosa, sehingga bersih seperti pada hari dilahirkan. Barang siapa mengerjakan haji, lalu tidak melakukan rafats dan fasik, niscaya ia kembali bersih seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)’’.
- Mendapat pahala syurga. Rasulullah saw. Bersabda: Umrahku, umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya. Sedang haji yang mabrur tiada balasannya kecuali syurga. ‘’(Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Perintah menyediakan bekal. Allah swt. Berfirman: (Q.S. al-Baqarah 2:197).
الْحَجُّ
أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ
وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ
يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ
وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
Yang artinya:
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.
Bekal yang dibutuhkan antara lain:
Bekal pertama dan utama adalahan taqwa (Q.S.al-Baqarah: 197).
Bekal harta untuk memenuhi keperluan selama dalam perjalanan pergi-pulang dengan keperluan hidup di tanah suci.
Bekal kesehatan (jasmani dan rohani) selama melaksanakan ibadah haji.
Bekal pengetahuan manasik dan penguasaan tata cara melaksanakan ibadah haji yang dicontohkan Nabi SAW.
Bakal semangat jihad, dan kesungguhan serta ketekunan melaksanakan ibadah haji secara sempurna.
Perintah menyempurnakan ibadah dan umrah. Allah swt. Berfirman: (Q.s. al-Baqarah :196).
Bekal pertama dan utama adalahan taqwa (Q.S.al-Baqarah: 197).
Bekal harta untuk memenuhi keperluan selama dalam perjalanan pergi-pulang dengan keperluan hidup di tanah suci.
Bekal kesehatan (jasmani dan rohani) selama melaksanakan ibadah haji.
Bekal pengetahuan manasik dan penguasaan tata cara melaksanakan ibadah haji yang dicontohkan Nabi SAW.
Bakal semangat jihad, dan kesungguhan serta ketekunan melaksanakan ibadah haji secara sempurna.
Perintah menyempurnakan ibadah dan umrah. Allah swt. Berfirman: (Q.s. al-Baqarah :196).
وَأَتِمُّوا
الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ
مِنَ الْهَدْيِ ۖ وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ
مَحِلَّهُ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ
فَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ ۚ فَإِذَا أَمِنتُمْ
فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ
الْهَدْيِ ۚ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ
وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ۗ ذَٰلِكَ لِمَن
لَّمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَاتَّقُوا
اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Yang artinya:
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.
Latar belakng perintah penyempurnaan ibadah haji:
Ibadah haji puncak keagamaan Islam (rukun Islam kelima).
Ibadah haji wajib hanya sekali seumur hidup setap Muslim an Muslimat.
Ibadah haji, ibadaah multi dimensial, ibadah Qalbiyah, lisaniyah, jasmaniah dan ibadah Makiyyah.
Ibadah haji, memerlukan banyak pengorbanan (waktu, tenaga dan harta).
Ibadah haji adalah puncak status keislaman kaum Muslimin.
Aspek-aspek penyempurnaan ibadah haji:
Menyempurnakan syarat-syaratnya.
Menyempurnakan rukun-rukunnya.
Menyempurnakan wajibnya.
Menyempurnakan sunat-sunatnya.
Menyempurnakan hikmah-hikmahnya (memelihara haji mabrur).
Demikian, semoga dapat bermanfaat. Wa Allah a’lam bi al-shawab.
Ibadah haji puncak keagamaan Islam (rukun Islam kelima).
Ibadah haji wajib hanya sekali seumur hidup setap Muslim an Muslimat.
Ibadah haji, ibadaah multi dimensial, ibadah Qalbiyah, lisaniyah, jasmaniah dan ibadah Makiyyah.
Ibadah haji, memerlukan banyak pengorbanan (waktu, tenaga dan harta).
Ibadah haji adalah puncak status keislaman kaum Muslimin.
Aspek-aspek penyempurnaan ibadah haji:
Menyempurnakan syarat-syaratnya.
Menyempurnakan rukun-rukunnya.
Menyempurnakan wajibnya.
Menyempurnakan sunat-sunatnya.
Menyempurnakan hikmah-hikmahnya (memelihara haji mabrur).
Demikian, semoga dapat bermanfaat. Wa Allah a’lam bi al-shawab.
Sumber : Pengajian
Minggu, 13 September 2015
Masjid Nurul-Iman, Jl.Satelit 2 Metro Timur
Ustad Maleo Hasidiq
Relakah Kamu, Kehidupan di Dunia Sebagai Ganti Kehidupan di Akhirat?
Khutbah Pertama:
Sungguh dunia itu hina dan fana, sedangkan akhirat itu mulia dan kekal. Itulah keterangan pasti yang terdapat Alquran dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Alangkah beruntung orang yang mau mendengarkan nasehat-nasehat yang penuh makna dan mengena ini. Ia mendengarkannya dengan penuh konsentrasi, berusaha memahaminya, merenungkannya lalu berusaha merealisasikannya dengan perkataan dan perbuatannya.
Diantara nasehat itu adalah firman Allah:
Juga firman-Nya,
Juga firman-Nya:
Juga firman-Nya:
Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman:
Dan masih banyak lagi ayat-ayat senada yang menjelaskan dan mengingatkan kita tentang hakikat dunia dan seluruh isinya. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberikan hidayah taufiq-Nya kepada kita semua agar bisa memahaminya dan merealisasikannya dalam kehidupan kita di dunia ini.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Dunia dan segala kenikmatannya ini akan pergi, akan sirna dan akan berakhir dengan cepat, berbeda dengan segala kenikmatan akhirat yang tidak pernah berakhir selama-lamanya.
Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan:
Dunia dan seluruh isinya ini seperti air yang menempel di jari setelah dicelupkan di lautan, sedangkan akhirat ibarat lautan yang sangat luas.
Dalam hadits lain, dunia ini juga diibaratkan sebagai bangkai kambing yang cacat yang seandainya kambing yang cacat itu masih hidup, maka tidak ada seorang pun yang tertarik untuk memilikinya, lalu bagaimanakah jika kambing yang cacat sudah menjadi bangkai? Adakah orang yang sudi mengambil dan menyimpannya?
Wahai jiwa yang lebih mendahulukan dunia dibandingkan akhiratnya, tidakkah kita mau berpikir tentang hakikat dunia ini?!
Wahai hamba Allah,
Seandainya seluruh dunia beserta isinya berada dalam genggamanmu, dan ditambah dengan satu dunia lagi yang semisal dengan itu untukmu, maka apakah yang tersisa darinya untukmu jika maut datang menjemputmu?!
Wahai hamba Allah,
Setiap hari selalu ada ibrah (pelajaran). Pada kematian yang kita saksikan atau pada berita kematian yang sampai ke telinga kita terdapat pengingat agar berhenti jika kita termasuk orang yang mau berhenti.
Sampai kapan?… Sampai kapan?… Sampai kapan kita tidak bertakwa?…
Apakah kita menunggu dan berhadap ada dunia lain setelah dunia ini? Ataukah kita berharap dan berkeyakinan bahwa kita akan dikembalikan tapi tidak ke alam akhirat?! Sungguh itu adalah sesuatu yang tidak mungkin … akan tetapi kedua telinga telah tuli, keduanya tidak mau mendengar ayat-ayat … begitu juga hati, ia tidak peduli lagi dengan nasehat-nasehat.
Wahai hamba Allah,
Bergegaslah menyambut seruan dan perintah Rabbmu dan persiapkanlah bekal perjalanan akhiratmu! Bertaubatlah dari dosa-dosamu.
Alangkah rugi seseorang yang menjual kenikmatan surga dengan angan-angan dusta, dengan permainan-permainan yang menarik atau menukar surga dengan syahwat yang hina dan perbuatan-perbuatan tercela.
Sungguh sangat merugi orang yang menyebabkan Allah ‘Azza wa Jalla murka kepada mereka serta menyia-nyiakan usia mereka dalam gelimangan dosa dan maksiat.
Maka hendaklah kita memanfaat waktu yang tersisa untuk mempersiapkan bekal yang pasti kita butuhkan dalam kehidupan akhirat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
Sungguh sengsara orang yang setiap kali Allah berikan karunia dan kenikmatan yang baru kepadanya, namun dia menggunakan kenikmatan dan karunia itu untuk berbuat dosa, pelanggaran dan maksiat.
Sungguh celaka orang yang semakin bertambah kekayaan dan hartanya, namun semakin bertambah pula penyimpangan dan kesesatannya.
Berbagai kenikmatan dan pemberian Allah terus tercurah kepadanya .. ada yang berupa makanan yang bisa menguatkan tubuhnya … ada berupa air yang bisa menghilangkan dahaganya … ada yang berwujud pakaian yang bisa menghiasi tubuhnya dan menutup auratnya … ada kenikmatan dalam bentuk rumah yang menaunginya dari terpaan hujan dan terik matahari yang menyengat juga melindunginya dari serangan hewan yang mengancam … ada juga kenikmatan dalam wujud pasangan yang setia memperhatikan dan menemaninya … juga nikmat dalam bentuk keamanan lingkungan dari berbagai hal … Meski begitu banyak nikmat yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepadanya, namun dia terus berada dalam kubangan dosa, tidak mau lepas dan enggan meninggalkan berbagai perbuatan buruk dan maksiatnya.
Sungguh sangat celaka yang seperti ini, karena bisa jadi berbagai kenikmatan dan kesenangan yang Allah ‘Azza wa Jalla karuniakan kepadanya merupakan salah bentuk istidraj dan penangguhan dan penguluran siksa. Ingatlah firman Allah ‘Azza wa Jalla:
Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Kemudian Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla
Ya Allah! Karuniakanlah kepada kami taufik-Mu untuk menuju semua perkara yang Engkau ridhai! Jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan maksiat!
Jadikanlah kami termasuk para hamba-Mu yang senantiasa takut dan bertakwa kepada-Mu, ya Rabbal ‘alamin.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ.. اِتَّقُوْا اللهَ رَبَّكُمْ
وَأَطِيْعُوْهُ لِتَنَالُوْا بِتَقْوَاهُ وَطَاعَتِهِ سَعَادَةَ الدُّنْيَا
وَالآخِرَةِ، وَسَلُوْهُ جَلَّ وَعَلَا التَوْفِيْقَ وَالهِدَايَةَ
وَالمَعُوْنَةَ عَلَى التَقْوَى وَالطَاعَةِ؛ فَإِنَّ الأَمْرَ كُلَّهُ
بِيَدِهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ.
Kaum muslimin rahimakumullah,Sungguh dunia itu hina dan fana, sedangkan akhirat itu mulia dan kekal. Itulah keterangan pasti yang terdapat Alquran dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Alangkah beruntung orang yang mau mendengarkan nasehat-nasehat yang penuh makna dan mengena ini. Ia mendengarkannya dengan penuh konsentrasi, berusaha memahaminya, merenungkannya lalu berusaha merealisasikannya dengan perkataan dan perbuatannya.
Diantara nasehat itu adalah firman Allah:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Dan kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah main-main dan senda
gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi
orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mau memahaminya?” (QS.
Al-An’am/6:32).Juga firman-Nya,
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا
تَعْقِلُونَ
“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan
hidup duniawi dan perhiasannya; sedangkan apa yang di sisi Allah itu
lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak mau memahaminya?”
(QS. Al-Qhashas/28:60).Juga firman-Nya:
اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ وَفَرِحُوا
بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ
إِلَّا مَتَاعٌ
“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia
kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal
kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah
kesenangan (yang sedikit).” (QS. Ar-Ra’du/13:26).Juga firman-Nya:
أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
“Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan
di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan
kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah/9:38).Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿١٦﴾ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) lebih memilih kehidupan duniawi.
Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS.
Al-A’la/87:16-17).Dan masih banyak lagi ayat-ayat senada yang menjelaskan dan mengingatkan kita tentang hakikat dunia dan seluruh isinya. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberikan hidayah taufiq-Nya kepada kita semua agar bisa memahaminya dan merealisasikannya dalam kehidupan kita di dunia ini.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Dunia dan segala kenikmatannya ini akan pergi, akan sirna dan akan berakhir dengan cepat, berbeda dengan segala kenikmatan akhirat yang tidak pernah berakhir selama-lamanya.
Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan:
وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَا يَرْجِعُ؟
“Demi Allah! Dunia dibandingkan akhirat hanyalah seperti seseorang
dari kalian yang mencelupkan salah satu jemarinya ke laut), maka
lihatlah apa yang ada pada jarinya tersebut saat ia keluarkan dari
laut!” (HR. Muslim).Dunia dan seluruh isinya ini seperti air yang menempel di jari setelah dicelupkan di lautan, sedangkan akhirat ibarat lautan yang sangat luas.
Dalam hadits lain, dunia ini juga diibaratkan sebagai bangkai kambing yang cacat yang seandainya kambing yang cacat itu masih hidup, maka tidak ada seorang pun yang tertarik untuk memilikinya, lalu bagaimanakah jika kambing yang cacat sudah menjadi bangkai? Adakah orang yang sudi mengambil dan menyimpannya?
Wahai jiwa yang lebih mendahulukan dunia dibandingkan akhiratnya, tidakkah kita mau berpikir tentang hakikat dunia ini?!
Wahai hamba Allah,
Seandainya seluruh dunia beserta isinya berada dalam genggamanmu, dan ditambah dengan satu dunia lagi yang semisal dengan itu untukmu, maka apakah yang tersisa darinya untukmu jika maut datang menjemputmu?!
Wahai hamba Allah,
Setiap hari selalu ada ibrah (pelajaran). Pada kematian yang kita saksikan atau pada berita kematian yang sampai ke telinga kita terdapat pengingat agar berhenti jika kita termasuk orang yang mau berhenti.
Sampai kapan?… Sampai kapan?… Sampai kapan kita tidak bertakwa?…
Apakah kita menunggu dan berhadap ada dunia lain setelah dunia ini? Ataukah kita berharap dan berkeyakinan bahwa kita akan dikembalikan tapi tidak ke alam akhirat?! Sungguh itu adalah sesuatu yang tidak mungkin … akan tetapi kedua telinga telah tuli, keduanya tidak mau mendengar ayat-ayat … begitu juga hati, ia tidak peduli lagi dengan nasehat-nasehat.
Wahai hamba Allah,
Bergegaslah menyambut seruan dan perintah Rabbmu dan persiapkanlah bekal perjalanan akhiratmu! Bertaubatlah dari dosa-dosamu.
Alangkah rugi seseorang yang menjual kenikmatan surga dengan angan-angan dusta, dengan permainan-permainan yang menarik atau menukar surga dengan syahwat yang hina dan perbuatan-perbuatan tercela.
Sungguh sangat merugi orang yang menyebabkan Allah ‘Azza wa Jalla murka kepada mereka serta menyia-nyiakan usia mereka dalam gelimangan dosa dan maksiat.
قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang
yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”.
ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Az-Zumar/39:
15).Maka hendaklah kita memanfaat waktu yang tersisa untuk mempersiapkan bekal yang pasti kita butuhkan dalam kehidupan akhirat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ
هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ
اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu
akan memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling
baik dan yang paling besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allah;
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.
Al-Muzammil/73:20).
نَسْأَلُ اللهَ جَلَّ فِيْ عُلَاهُ أَنْ يَهْدِيَنَا أَجْمَعِيْنَ، وَأَنْ
يُسَدِّدَنَا، وَأَنْ يُلْهِمَنَا رُشْدَ أَنْفُسِنَا، وَأَنْ لَا
يَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَنْ يُصْلِحَ لَنَا
شَأْنَنَا كُلَّهُ، إِنَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى سَمِيْعُ الدُّعَاءِ،
وَهُوَ أَهْلُ الرَّجَاءِ، وَهُوَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الوَكِيْلِ.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ، عِبَادَ اللهِ.. اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى
وَاسْتَمْسِكُوْا بِهُدَاهُ، وَاعْتَنُوْا بِسُنَّةِ نَبِيِّهِ الكَرِيْمِ
عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ؛ فَإِنَّ مَثَلَ السُنَّةِ مَثَلَ
سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَرَكَهَا غَرِقٌ وَهَلَكٌ.
Kaum muslimin, rahimakumullah!Sungguh sengsara orang yang setiap kali Allah berikan karunia dan kenikmatan yang baru kepadanya, namun dia menggunakan kenikmatan dan karunia itu untuk berbuat dosa, pelanggaran dan maksiat.
Sungguh celaka orang yang semakin bertambah kekayaan dan hartanya, namun semakin bertambah pula penyimpangan dan kesesatannya.
Berbagai kenikmatan dan pemberian Allah terus tercurah kepadanya .. ada yang berupa makanan yang bisa menguatkan tubuhnya … ada berupa air yang bisa menghilangkan dahaganya … ada yang berwujud pakaian yang bisa menghiasi tubuhnya dan menutup auratnya … ada kenikmatan dalam bentuk rumah yang menaunginya dari terpaan hujan dan terik matahari yang menyengat juga melindunginya dari serangan hewan yang mengancam … ada juga kenikmatan dalam wujud pasangan yang setia memperhatikan dan menemaninya … juga nikmat dalam bentuk keamanan lingkungan dari berbagai hal … Meski begitu banyak nikmat yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepadanya, namun dia terus berada dalam kubangan dosa, tidak mau lepas dan enggan meninggalkan berbagai perbuatan buruk dan maksiatnya.
Sungguh sangat celaka yang seperti ini, karena bisa jadi berbagai kenikmatan dan kesenangan yang Allah ‘Azza wa Jalla karuniakan kepadanya merupakan salah bentuk istidraj dan penangguhan dan penguluran siksa. Ingatlah firman Allah ‘Azza wa Jalla:
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ
لِأَنْفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ
وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir itu menyangka, bahwa
pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka.
Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya
bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka adzab yang menghinakan.”
(QS. Ali Imran/3:178).Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيْهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ
“Jika engkau melihat Allah memberikan anugerah dunia kepada hamba-Nya
apa yang ia sukai, sementara sang hamba tetap bermaksiat kepada-Nya,
maka sesungguhnya itu adalah istidraj.” (HR. Ahmad)Kemudian Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ
شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً
فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada
mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka;
sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan
kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika
itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am/6:44).Ya Allah! Karuniakanlah kepada kami taufik-Mu untuk menuju semua perkara yang Engkau ridhai! Jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan maksiat!
Jadikanlah kami termasuk para hamba-Mu yang senantiasa takut dan bertakwa kepada-Mu, ya Rabbal ‘alamin.
وَاعْلَمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ أَنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ،
وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ
بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى
الجَمَاعَةِ، وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ
بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿إِنَّ
اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا صَلُّوا وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾[الأحزاب:56]، وَقَالَ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((من صلَّى عليَّ صلاة صلى الله عليه بها عشرا))
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةَ
المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ
اللّٰهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ
الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ مِنْ
سَدِيْدِ الأَقْوَالِ وَصَالِحِ الأَعْمَالِ يَا ذَا الجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ.
اَللّٰهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعِفَّةَ وَالغِنَى.
اَللّٰهُمَّ اهْدِنَا وَسَدِّدْنَا.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ اَلَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا،
وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا اَلَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ
لَنَا آخِرَتَنَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ
زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ
شَرٍّ، يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ، دِقَّهُ وَجِلَّهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، عَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
عِبَادَ اللهِ.. اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُوْنَ.
Sumber : Shalat Jum'at
18 September 2015
Masjid Tuma'ninah Yasin, Jl.Plamboyan hadimulyo Barat
Ustad Dedi Albukhori
Betapapun Nikmatnya Hidup, Anda Akan Meninggalkannya
Khutbah Pertama:
Pernahkah kita berfikir, berapa orang yang meninggal dunia di kota kita selama satu bulan? Atau selama satu tahun? Atau bahkan setiap hari di seluruh penjuru bumi? Ketetapan Allah terus berjalan. Ada yang lahir ke dunia dan sebagian lagi meninggalkannya. Suatu saat nanti, pasti kita akan mendapatkan giliran. Ini sebuah realita kehidupan yang tidak bisa dipungkiri. Namun sangat disayangkan, banyak orang lupa atau melupakan kematian.
Padahal dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak membicarakan tentang kematian kepada para sahabat, sementara kondisi hati mereka hidup. Ini sangat berbeda dengan realita sangat ini. Betapa banyak acara yang dibuat, upaya yang dirancang untuk mengalihkan perhatian dari kematian. Padahal kita sangat membutuhkannya untuk menyadarkan kita dari kelalaian dan melunakkan hati yang sudah mengeras! Kalau kita mau menjawab dengan jujur, siapakah yang lebih butuh terhadap pembicaraan tentang kematian, kita ataukah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawabnya, tentu kita.
Oleh karena itu, pembicaraan tentang kematian khotib angkat. Pembicaraan tentang sebuah peristiwa yang amat mengerikan. Peristiwa yang memutuskan seluruh kesenangan dan mengubur seluruh angan-angan. Kematian berarti berpisah dengan orang-orang yang dicintai. Kematian memutus kesempatan beramal, dan mengantarkan ke gerbang hisab.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menasehati kita dengan nasehat yang menyentuh. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Ibadallah,
Mengingat kematian itu dapat menghidupkan hati. Orang yang benar-benar malu terhadap Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan melalaikan kematian serta tidak akan meremehkan persiapan menghadapi kematian. Sebagaimana disebutkan dalam hadits.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Bila ada kesempatan, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingatkan para sahabatnya tentang kematian dan berbagai rentetan persistiwa yang akan mengiringinya.
Dalam riwayat lain, al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu mengatakan.
Demikian juga Salafus Shalih, mereka mengingat kematian dan mengingatkan orang lain dengannya. Diriwayatkan bahwa Uwais al-Qarni rahimahullah berkata kepada penduduk Kufah, “Wahai penduduk Kufah, sesungguhnya ketika kamu tidur, kamu berbantalkan kematian. Oleh karena itu, jika kamu telah bangun, jadikanlah kematian itu selalu di hadapanmu.”
Ibadallah,
Mengingat kematian itu memiliki pengaruh besar dalam menyadarkan jiwa dari kelalaian. Kematian merupakan pelajaran terbesar. Seorang ahli zuhud ditanya, “Apakah pelajaran yang paling berpengaruh?” Dia menjawab, “Melihat tempat orang-orang yang mati”. Ahli zuhud yang lain mengatakan, “Orang yang tidak berhenti dari kemaksiatan dengan (nasehat) Alquran dan kematian, seandainya gunung-gunung bertabrakkan di hadapannya, dia juga tidak akan berhenti!”
Sungguh, ziarah kubur, menyaksikan jenazah, melihat orang sekarat, merenungkan sakaratul maut, merenungkan wajah mayit setelah matinya, akan mengekang jiwa dari berbagai kesenangannya serta akan mengusir kegembiraan hati.
Orang yang mempersiapkan diri menghadapi kematian, dia akan beramal dengan sungguh-sungguh dan memperpendek angan-angan.
Al-Lubaidi berkata, “Aku melihat Abu Ishaq rahimahullah di waktu hidupnya, selalu mengeluarkan secarik kertas dan membacanya. Ketika dia telah wafat, aku melihat kertas tersebut, ternyata tertulis padanya ‘Perbaguslah amalanmu, sesungguhnya ajalmu telah dekat!! Perbaguslah amalanmu, sesungguhnya ajalmu telah dekat!!!’.”
Saudara-saudaraku, sesungguhnya orang yang hidup dengan tetap mewaspadai akhir kehidupan, dia akan menjalani kehidupan dengan terus mempersiapkan diri. Sehingga ketika kematian menjelang, dia tidak menyesal atau kalau pun menyesal tapi tidak terlalu.
Oleh karena itu, diriwayatkan bahwa Syaqiq al-Balkhi rahimahullah berkata, “Bersiaplah! Jika kematian mendatangimu, engkau tidak berteriak sekuat tenaga memohon kehidupan. Namun permohonanmu tidak akan dikabulkan”.
Dengan nasehat ini aku ingin membangunkan hati dari tidurnya, menghentikan jiwa dari bergelimang dalam kesesatan dan syahwatnya.
Dengan nasehat ini aku ingin orang yang shalih bertambah keshalihannya dan orang yang lalai segera bangun sebelum menyesal atau sebelum kematiannya.
Kalian telah melihat kehidupan ini berlalu dengan cepat, namun kebanyakan orang tidak menyadarinya. Ada yang lahir sementara yang lain meninggal. Rahim mengeluarkan bayinya, sementara bumi menelan mayit.
Saudara-saudaraku, kehidupan di dunia ini terbatas waktunya. Dia pasti akan berakhir. Orang-orang shalih akan mati, begitu juga orang-orang jahat. Orang-orang bertaqwa akan meninggal, begitu juga yang bergelimang dosa.
Para pahlawan dan mujahid, para penakut dan orang yang lari meninggalkan medan jihad, semua akan mati. Orang-orang mulia yang hidup untuk akhirat dan orang-orang tamak yang hidupnya hanya untuk kesenangan dunia, semuanta tak akan luput dari kematian.
Orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi atau hidup hanya untuk syahwat kemaluan dan perut, semuanya pasti dicabut nyawanya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
Semua makhluk yang bernyawa akan mengalami kematian. Ia merupakan hakekat, namun kita selalu berusaha lari darinya. Kematian merupakan hakekat, yang bisa menjungkalkan.
Kematian merupakan realita yang terdengar sepanjang zaman dan di setiap tempat. Dia terdengar di telinga, masuk ke pemikiran semua orang yang berakal dan mengetuk hati semua orang yang hidup. Dia membisikan bahwa semua orang akan mati, kecuali Dzat yang memiliki kemuliaan dan keperkasaan.
Kematian merupakan realita yang mungkin dihindari. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
Ya, kematian itu pasti akan menemui kamu…di mana saja kamu berada, kamu akan mati,
Wahai orang-orang kuat …
Wahai orang-orang kuat, nan muda usia …
Wahai orang-orang cerdas dan jenius …
Wahai pemimpin, pembesar …
Wahai orang fakir dan rakyat jelata …
Semua orang yang menangis (karena kematian orang yang dicintai), dia juga akan membuat orang lain menangis (ketika dia mati) …
Semua pembawa berita kematian, dia juga akan diberitakan kematiannya…
Semua harta simpanan akan binasa …
Semua yang disebut-sebut akan dilupakan …
Tidak ada yang kekal selain Allah.
Jika ada orang yang merasa tinggi, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih tinggi.
Ketahuilah, semoga Allah menjagamu, orang yang hidup pasti akan mati … dan orang yang mati akan hilang (dari kehidupan) … dan semua yang akan datang pasti akan tiba waktunya …
Wahai saudaraku, kehidupanmu yang hakiki akan mulai setelah kematianmu … Persiapkanlah segala sesuatu untuk bekal menjalani kehidupanmu yang sebenarnya. Amal kebaikan, itulah bekal menghadap Allah ‘Azza wa Jalla.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ
لَهُ .
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ}
أَمَّا بَعْدُ:
فَإِنَّ خَيْرَ الكَلَامِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ
مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ .
Kaum muslimin rahimakumullah,Pernahkah kita berfikir, berapa orang yang meninggal dunia di kota kita selama satu bulan? Atau selama satu tahun? Atau bahkan setiap hari di seluruh penjuru bumi? Ketetapan Allah terus berjalan. Ada yang lahir ke dunia dan sebagian lagi meninggalkannya. Suatu saat nanti, pasti kita akan mendapatkan giliran. Ini sebuah realita kehidupan yang tidak bisa dipungkiri. Namun sangat disayangkan, banyak orang lupa atau melupakan kematian.
Padahal dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak membicarakan tentang kematian kepada para sahabat, sementara kondisi hati mereka hidup. Ini sangat berbeda dengan realita sangat ini. Betapa banyak acara yang dibuat, upaya yang dirancang untuk mengalihkan perhatian dari kematian. Padahal kita sangat membutuhkannya untuk menyadarkan kita dari kelalaian dan melunakkan hati yang sudah mengeras! Kalau kita mau menjawab dengan jujur, siapakah yang lebih butuh terhadap pembicaraan tentang kematian, kita ataukah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawabnya, tentu kita.
Oleh karena itu, pembicaraan tentang kematian khotib angkat. Pembicaraan tentang sebuah peristiwa yang amat mengerikan. Peristiwa yang memutuskan seluruh kesenangan dan mengubur seluruh angan-angan. Kematian berarti berpisah dengan orang-orang yang dicintai. Kematian memutus kesempatan beramal, dan mengantarkan ke gerbang hisab.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menasehati kita dengan nasehat yang menyentuh. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ
يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ ,
وَلاَ ذَكَرَهُ فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ
“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena
kematian itu, jika diingat oleh orang yang sedang dalam kesusahan hidup,
maka akan bisa meringankan kesusahannya. Dan jika diingat oleh orang
yang sedang senang, maka akan bisa membatasi kebahagiaannya itu.” (HR.
Thabrani dan al-Hakim).Ibadallah,
Mengingat kematian itu dapat menghidupkan hati. Orang yang benar-benar malu terhadap Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan melalaikan kematian serta tidak akan meremehkan persiapan menghadapi kematian. Sebagaimana disebutkan dalam hadits.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ
قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ
قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ
الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى
وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ
زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ
حَقَّ الْحَيَاءِ
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Hendaklah kamu benar-benar malu kepada Allah!”. Kami
mengatakan, “Wahai Rasulullah, al-hamdulillah kami malu (kepada Allah)”.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan begitu
(sebagaimana yang kamu sangka-pen). Tetapi (yang dimaksud) benar-benar
malu kepada Allah adalah engkau menjaga kepala dan isinya, menjaga perut
dan apa yang berhubungan dengannya; dan hendaklah engkau mengingat
kematian dan kebinasaan. Dan barangsiapa menghendaki akhirat, dia
meninggalkan perhiasan dunia. Barangsiapa telah melakukan itu, berarti
dia telah benar-benar malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Bila ada kesempatan, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingatkan para sahabatnya tentang kematian dan berbagai rentetan persistiwa yang akan mengiringinya.
عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جِنَازَةٍ فَجَلَسَ عَلَى شَفِيرِ الْقَبْرِ
فَبَكَى حَتَّى بَلَّ الثَّرَى ثُمَّ قَالَ يَا إِخْوَانِي لِمِثْلِ هَذَا
فَأَعِدُّوا
Dari al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada (penguburan-red) suatu jenazah, lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
duduk pada tepi kubur, kemudian beliau menangis sehingga tanah
terbasahi, lalu beliau bersabda: “Wahai saudara-saudaraku!
Bersiap-siaplah untuk yang seperti ini.” (HR. Ibnu Majah).Dalam riwayat lain, al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu mengatakan.
بَيْنَمَا نَحْنُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِذْ بَصَرَ بِجَمَاعَةٍ فَقَالَ : عَلَامَ اجْتَمَعَ عَلَيْهِ هَؤُلَاءِ؟
قِيْلَ : عَلَى قَبْرٍ يَحْفِرُوْنَهُ ، قَالَ : فَفَزِعَ رَسُوْلُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَدَرَ بَيْنَ يَدَيْ أَصْحَابِهِ
مُسْرِعًا حَتَّى انْتَهَى إِلَى الْقَبْرِ فَجَثَا عَلَيْهِ ، قَالَ :
فَاسْتَقْبَلْتُهُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ لِأَنْظُرَ مَا يَصْنَعُ ، فَبَكَى
حَتىَّ بَلَّ الثَّرَى مِنْ دُمُوْعِهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا قَالَ:
أَيْ إِخْوَانِي ! لِمِثْلِ الْيَوْمِ فَأَعِدُّوْا
“Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , tiba-tiba Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
melihat sekelompok orang, maka beliau bertanya, ‘Untuk apa mereka
berkumpul?’ Dikatakan kepada beliau, ‘Mereka berkumpul pada kuburan yang
sedang mereka gali’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
terperanjat, lalu bergegas mendahului para sahabat sehingga sampai di
kuburan, lalu beliau berlutut ke arah kuburan. Bara’ berkata, ‘Maka aku
menghadap di depan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk
melihat apa yang akan beliau lakukan’. Kemudian beliau menangis sehingga
tanah menjadi basah karena air mata beliau. Lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
menghadap kepada kami dan bersabda, “Wahai saudara-saudaraku!
Bersiap-siaplah untuk yang sepertil hari ini!” (Silsilatush Shahihah,
no. 1751).Demikian juga Salafus Shalih, mereka mengingat kematian dan mengingatkan orang lain dengannya. Diriwayatkan bahwa Uwais al-Qarni rahimahullah berkata kepada penduduk Kufah, “Wahai penduduk Kufah, sesungguhnya ketika kamu tidur, kamu berbantalkan kematian. Oleh karena itu, jika kamu telah bangun, jadikanlah kematian itu selalu di hadapanmu.”
Ibadallah,
Mengingat kematian itu memiliki pengaruh besar dalam menyadarkan jiwa dari kelalaian. Kematian merupakan pelajaran terbesar. Seorang ahli zuhud ditanya, “Apakah pelajaran yang paling berpengaruh?” Dia menjawab, “Melihat tempat orang-orang yang mati”. Ahli zuhud yang lain mengatakan, “Orang yang tidak berhenti dari kemaksiatan dengan (nasehat) Alquran dan kematian, seandainya gunung-gunung bertabrakkan di hadapannya, dia juga tidak akan berhenti!”
Sungguh, ziarah kubur, menyaksikan jenazah, melihat orang sekarat, merenungkan sakaratul maut, merenungkan wajah mayit setelah matinya, akan mengekang jiwa dari berbagai kesenangannya serta akan mengusir kegembiraan hati.
Orang yang mempersiapkan diri menghadapi kematian, dia akan beramal dengan sungguh-sungguh dan memperpendek angan-angan.
Al-Lubaidi berkata, “Aku melihat Abu Ishaq rahimahullah di waktu hidupnya, selalu mengeluarkan secarik kertas dan membacanya. Ketika dia telah wafat, aku melihat kertas tersebut, ternyata tertulis padanya ‘Perbaguslah amalanmu, sesungguhnya ajalmu telah dekat!! Perbaguslah amalanmu, sesungguhnya ajalmu telah dekat!!!’.”
Saudara-saudaraku, sesungguhnya orang yang hidup dengan tetap mewaspadai akhir kehidupan, dia akan menjalani kehidupan dengan terus mempersiapkan diri. Sehingga ketika kematian menjelang, dia tidak menyesal atau kalau pun menyesal tapi tidak terlalu.
Oleh karena itu, diriwayatkan bahwa Syaqiq al-Balkhi rahimahullah berkata, “Bersiaplah! Jika kematian mendatangimu, engkau tidak berteriak sekuat tenaga memohon kehidupan. Namun permohonanmu tidak akan dikabulkan”.
Dengan nasehat ini aku ingin membangunkan hati dari tidurnya, menghentikan jiwa dari bergelimang dalam kesesatan dan syahwatnya.
Dengan nasehat ini aku ingin orang yang shalih bertambah keshalihannya dan orang yang lalai segera bangun sebelum menyesal atau sebelum kematiannya.
Kalian telah melihat kehidupan ini berlalu dengan cepat, namun kebanyakan orang tidak menyadarinya. Ada yang lahir sementara yang lain meninggal. Rahim mengeluarkan bayinya, sementara bumi menelan mayit.
Saudara-saudaraku, kehidupan di dunia ini terbatas waktunya. Dia pasti akan berakhir. Orang-orang shalih akan mati, begitu juga orang-orang jahat. Orang-orang bertaqwa akan meninggal, begitu juga yang bergelimang dosa.
Para pahlawan dan mujahid, para penakut dan orang yang lari meninggalkan medan jihad, semua akan mati. Orang-orang mulia yang hidup untuk akhirat dan orang-orang tamak yang hidupnya hanya untuk kesenangan dunia, semuanta tak akan luput dari kematian.
Orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi atau hidup hanya untuk syahwat kemaluan dan perut, semuanya pasti dicabut nyawanya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa.” (QS. ar-Rahman/55: 26).
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran/3:185).Semua makhluk yang bernyawa akan mengalami kematian. Ia merupakan hakekat, namun kita selalu berusaha lari darinya. Kematian merupakan hakekat, yang bisa menjungkalkan.
- Keangkuhan orang-orang yang bersombong
- Penentangan orang-orang yang menyimpang
- Kezhaliman para thagut yang mengangkat dirinya sebagai tuhan yang harus ditaati.
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum
kamu (Muhammad); Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS.
al-Anbiya’/21:34).Kematian merupakan realita yang terdengar sepanjang zaman dan di setiap tempat. Dia terdengar di telinga, masuk ke pemikiran semua orang yang berakal dan mengetuk hati semua orang yang hidup. Dia membisikan bahwa semua orang akan mati, kecuali Dzat yang memiliki kemuliaan dan keperkasaan.
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (QS. Al-Qashshash/28:88).
أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ .
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ، وَأُثْنِي عَلَيْهِ ثَنَاءَ
الذَّاكِرِيْنَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْهِ هُوَ كَمَا أَثْنَى عَلَى
نَفْسِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى،
Ibadallah,Kematian merupakan realita yang mungkin dihindari. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ
ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ
بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka
sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan
dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata,
lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS.
al-Jum’ah/62: 8).Ya, kematian itu pasti akan menemui kamu…di mana saja kamu berada, kamu akan mati,
Wahai orang-orang kuat …
Wahai orang-orang kuat, nan muda usia …
Wahai orang-orang cerdas dan jenius …
Wahai pemimpin, pembesar …
Wahai orang fakir dan rakyat jelata …
Semua orang yang menangis (karena kematian orang yang dicintai), dia juga akan membuat orang lain menangis (ketika dia mati) …
Semua pembawa berita kematian, dia juga akan diberitakan kematiannya…
Semua harta simpanan akan binasa …
Semua yang disebut-sebut akan dilupakan …
Tidak ada yang kekal selain Allah.
Jika ada orang yang merasa tinggi, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih tinggi.
Ketahuilah, semoga Allah menjagamu, orang yang hidup pasti akan mati … dan orang yang mati akan hilang (dari kehidupan) … dan semua yang akan datang pasti akan tiba waktunya …
مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ
“Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya
waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang.” (QS. Al-Ankabut/29:
5).Wahai saudaraku, kehidupanmu yang hakiki akan mulai setelah kematianmu … Persiapkanlah segala sesuatu untuk bekal menjalani kehidupanmu yang sebenarnya. Amal kebaikan, itulah bekal menghadap Allah ‘Azza wa Jalla.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَعَاكُمُ اللهُ- عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ
اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾ [الأحزاب:٥٦]
، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ
صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ
عَلَى إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ،
وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرٍ الصِدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ،
وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ
اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ
الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمُيْنَ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ
خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ .
اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ
حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالعَمَلَ الَّذِيْ يُقَرِبُ إِلَى
حُبِّكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .
عِبَادَ اللهِ اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، { وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا تَصْنَعُونَ } .
Sumber : Sholat Jum'at
Jum'at, 11 September 2015
Masjid Baiturrahman, Jl.Pala Iringmulyo Metro Timur
Ustad Henki RM
Langganan:
Postingan (Atom)